Tampilkan postingan dengan label pengalaman pribadi. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Pribadi dalam Pelayanan Publik




Pada pertengahan tahun 2010 lalu saya, diminta oleh orang tua yang tinggal di luar kota untuk mengurus perpanjangan pajak mobil di Samsat daerah Ciputat. Awalnya saya merasa malas untuk melakukan hal ini, karena dalam bayangan saya untuk mengurus perpanjangan pajak mobil akan memakan waktu yang lama dan berbelit-belit. Bayangan itu datang dari banyaknya opini masyarakat pada umumnya yang sering mengeluhkan proses seperti ini. Akhirnya karena ini permintaan orang tua saya, maka dengan berat hati saya lakukan.

Tadinya, untuk mengurus perpanjangan pajak mobil ini saya berencana untuk menggunakan jasa seseorang, jadi saya hanya menunggu hasilnya, dengan cara seperti ini, kita biasanya akan dikenakan biaya tambahan untuk jasa nya, orang yang menjual jasa seperti ini umumnya memang banyak di sekitar samsat dan akan menawarkan diri mereka sendiri. Namun sayangnya saat saya tiba di tempat, masih terlalu pagi dan tidak ada orang-orang yang saya cari, maka saya harus mengurus seluruh proses seorang diri.
Diluar dari perkiraan saya, ternyata proses untuk perpanjangan pajak berlangsung cepat, mudah, dan tidak ribet. Berikut tahap-tahap yang saya lalui:
  •           Pertama saya harus memastikan kelengkapan berkas-berkas yang diperlukan
  •         Lalu saya taruh dalam tumpukan map-map yang juga akan memperpanjang pajaknya di loket pertama
  •        Kemudian saya menunggu dipanggil petugas, untuk mendapatkan rincian yang harus dibayarkan
  •          Setelah itu saya melakukan pembayaran
  •         Kemudian saya menunggu sebentar untuk mengambil BPKB dan STNK baru yang telah diperpanjang

Untuk keseluruhan proses ini, hanya memakan waktu + 1 jam sehingga tidak perlu memakan banyak waktu dan tidak melalui propses yang panjang. Ternyata ada baiknya saya mengurus seorang diri, selain dapat menghemat biaya, saya ternyata tahu jika prosesnya mudah dan cepat. Menurut saya pengalaman saya ini dapat menunjukan pelayanan publik saat ini sudah mulai ada perubahan kearah yang lebih baik dan ini adalah hal yang ditunggu oleh masyarakat luas, semoga pelayanan yang lain pun seperti ini.

Menikahi seorang akuntan

Berikut ini adalah cerita seseorang yang menikah dengan seorang akuntan..






Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional: AKUNTAN PUBLIK.Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa yang dilakukannya …
1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat mengambil makanan yang disimpan di kulkas. Aduh…
2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain dengan angka. Aku sih no problem, makanya dia yang mengurus anggaran rumah tangga. Eh, tiap akhir bulan dia bikin invoice tagihan profesional fee sama aku. Waktu
kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya, dia malah minta
advance payment.
3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat steadily, sehingga suatu hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di ordner berlabel “Current File“. Tak heran! Dia rupanya men charge mileage (jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga. Dia juga menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya. Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia malah bilang, “Ya enggaklah sayang, aku kan auditor…”
4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan difilekan. Alasan dia, ada peraturan yang mengharuskan dia memaintain copy hasil kerjanya selama 10 tahun. Aku sungguh-sungguh khawatir…
5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang kalau aku cinta dia juga. Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan terjadi mis-statement. Dan dia memintaku membuatRepresentation Letter mengenai masalah ini… Duhhh
6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan opiniQualified karena aku gak menyimpan supporting document atas expensesku.
7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu berdatangan surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk warung di depan rumah. Ternyata, istriku mengirimi Confirmation Letter kepada mereka semua. Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari pihak eksternal lebih realible. Cape deh…
8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti resep. Bila resep bilang, tambahkan setengah sendok garam, atau satu sendok teh gula, atau setengah gelas air, dia selalu tidak peduli. Dia bilang kalau itu tidak material bila dibandingkan dengan seluruh menu yang disiapkan.
9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua orang bilang kalau dia auditor. Di kamus, ternyata kata “auditor” bukan sinonim untuk kata “gila”. Pasti kamusnya ketinggalan zaman.
10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement Letter padaku. Awalnya aku bilang, “Oh, makasih ya sayang …” Ternyata setiap tahun dia memberikan surat yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia
melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru memahami tujuan dan scope dari Engagement. Dia juga bilang, aku tidak bisa pisah dari dia begitu saja. Dia punya hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang lain. Dan dia juga
menegaskan bila aku menunjuk orang lain menggantikan dia, maka harus ada komunikasi antara dia dan penggantinya, agar dia bisa menyampaikan keberatan profesionalnya. Mati kita…
11. Phew … Kadang kala, aku berpikir, kalau dia membahayakan going concernnya pernikahan ini. Duh … Kok aku jadi kebawa-bawa dia …
12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi ternyata ada temanku yang juga kawin dengan akuntan, punya cerita yang lebih parah. Istrinya mengkapitalisasi biaya pernikahan sebagai Preliminary Expenses, dan mengamortisasinya setiap tahun. Biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum berumah tangga, juga dikapitalisasi sebagai biaya pra-pernikahan. Juga, waktu yang dihabiskannya selama pacaran sebelum menikah sedang dalam proses valuasi, untuk dimasukkan sebagai intangible assets.
Teman-teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi auditor. Kalau kau sudah berpikir dua kali dan tetap memutuskan untuk menikahinya, pikirkan dua kali lagi. Kau harus mempertimbangkan besar risk sebelum memulai engagement. Duh … Aku ternyata sudah gila.